Kamis, 18 November 2010

Download Aplikasi Typing

Ada dapat menggunakan program ini dengan membuka aplikasi "Typing"





PETUNJUK PENGGUNAAN

- tunggu sejenak hingga program selesai berjalan.

- lalu Pilih New User, Masukan Nama Anda[terserah,red], Masukan Password[terserah,red] maka tekan OK.

- Jika anda bisa berbahasa inggris, maka anda bisa membaca peraturan-peraturan nya, dengan terus menekan "next"!,
namun jika anda tidak bisa berbahasa inggris Maka Silahkan Langsung Menekan "Leave".

- maka akan keluar gambar posisi Duduk yang benar dalam ber-komputerisasi. Perhatikan dan aplikasikan. Tekan Ok

- dan pilih "Beginer", Posisikan jari-jari anda dengan benar :

@ Jari kelingking kiri Pada key huruf A

@ jari manis kiri Pada key huruf S

@ jari tengah kiri Pada key huruf D

@ jari telunjuk kiri Pada key huruf F

@ jari jempol kiri Pada key "Spasi"

@ jari jempol kanan Pada key huruf J

@ jari telunjuk kanan Pada key huruf K

@ jari tengah kanan Pada key huruf L

@ jari manis kanan Pada key lambang :

@ jari kelingking kanan "Spasi"

- Terakhir anda ikuti perintah pada aplikasi

anda akan terus dibawa ketingkat yang lebih sulit, lakukan latihan setiap hari secara rutin jika perlu!

Untuk itu anda dapar mendownload aplikasi nya :

SELAMAT MENCOBA


^_^

Selasa, 15 Juni 2010

BUMI DAN LANGIT BERLAPIS TUJUH

Oleh
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta

Pertanyaan.
Lajnah Daimah Lil Buhuts Al-Ilmiah Wal Ifta ditanya : Apakah di dalam Al-Qur’an Al-Karim atau dalam hadits Nabi Shallallalhu ‘alaihi wa sallam terdapat (keterangan) bahwa bumi berlapis tujuh, karena selama ini kami berbeda pendapat dalam masalah tersebut. Kalau ada, tolong sebutkan dalam surat apa atau hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mana keterangan tersebut terdapat ! Atas jawabannya kami ucapkan Jazakumullah khairan katsira.

Jawaban
Di dalam Al-Qur’an Al-karim disebutkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan bumi berlapis tujuh, sebagaimana juga langit yang telah Ia ciptakan berlapis tujuh.

Berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Allahlah yang menciptakan tujuh langit ; dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah maha berkuasa atas segala sesuatu dan sesungguhnya Allah ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu” [Ath-Thalaq : 12]

Didalam hadits shahih disebutkan bahwa bumi berlapis tujuh, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari hadits no.2320 dan Muslim hadits no. 1610 dari Sa’id bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa mengambil sejengkal tanah (orang lain) secara zhalim, maka kelak Allah himpitkan kepadanya pada hari kiamat (dengan) tujuh lapis bumi”

Di dalam kitab Shahihain (Bukhari no.2321 dan Muslim no.1612) juga tercantum hadits serupa itu dari Aisyah secara marfu.

Semoha shalawat tercurah kepada Nabi, keluarganya dan sahabat-sahabatnya.

[Fatawa Li Al- Lajnah Ad-Da’imah 1/63, Fatwa no. 8805 Di susun oleh Syaikh Ahmad Abdurrazzak Ad-Duwaisy, Darul Asimah Riyadh. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 2/I/Syawwal 1423H Hal. 4]

MACAM-MACAM TAUHID

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan.

Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Disebabkan kebodohan saya tentang macam-macam tauhid dan apa hakikatnya, sementara itu saya ingin berlepas diri dari (hal-hal yang bertentangan dengan tauhid, yaitu) kesyirikan, maka saya mengharapkan jawaban dari pertanyaan berikut ini. Ada berapa macam tauhid itu, dan bagaimana penjelasannya masing-masing ?

Jawaban.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah semangat anda untuk mencari kebaikan ; dan sungguh hal ini menunjukkan betapa besar perhatian anda terhadap masalah aqidah. Memang wajib bagi setiap muslim memperhatikan aqidahnya karena aqidah merupakan asas (fondasi) dari amal perbuatannya. Amal perbuatan itu dikatakan benar dan akan mendapatkan pahala hanya jika memenuhi dua syarat berikut:

Pertama.
Amal tersebut haruslah dibangun di atas aqidah yang benar (ikhlas).

Kedua.
Harus sesuai dengan apa yang disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (mutaba’ah).

Perhatian anda terhadap aqidah, yakni yang berkaitan dengan pengetahuan tentang macam-macam tauhid, menunjukkan anda bersemangat meraih kebaikan –alhamdulillah-, menginginkan kebenaran dan kelurusan aqidah yang wajib bagi setiap muslim.

Berkenan dengan macam-macam tauhid, maka saya sampaikan bahwa tauhid ada tiga macam.

Pertama : Tauhid Rububiyah.
Artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal perbuatanNya. Seperti mencipta, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, mendatangkan bahaya, memberi manfaat, dan lain-lain yang merupakan perbuatan-perbuatan khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang muslim haruslah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memiliki sekutu dalam RububiyahNya.

Kedua : Tauhid Uluhiyah
Artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam jenis-jenis peribadatan yang telah disyariatkan. Seperti ; shalat, puasa, zakat, haji, do’a, nadzar, sembelihan, berharap, cemas, takut, dan sebagainya yang tergolong jenis ibadah. Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal-hal tersebut dinamakan Tauhid Uluhiyah ; dan tauhid jenis inilah yang dituntut oleh Allah Subhanhu wa Ta’ala dari hamba-hambaNya. Karena tauhid jenis pertama, yaitu Tauhid Rububiyah, setiap orang (termasuk jin) mengakuinya, sekalipun orang-orang musyrik yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus Rasulullah kepada mereka. Mereka mayakini Tauhid Rububiyah ini, sebagaiman tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan mereka ?’ niscaya mereka menjawab ‘Allah’. Maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)� [Al-Zukhruf : 87]

“Artinya : Katakanlah, ‘Siapakah yang mempunyai tujuh langit dan mempunyai ‘Arsy yang besar ?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertaqwa?� [Al-Mu’minun : 86-87]

Masih banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahwa orang-orang musyrik meyakini Tauhid Rububiyah. Akan tetapi, sebenarnya yang dituntut dari mereka adalah mengesakan Allah dalam hal ibadah. Jika mereka mengikrarkan Tauhid Rububiyah, maka hendaknya juga mengakui Tauhid Uluhiyah (ibadah). Sungguh, Rasulullah (diutus untuk)menyeru mereka agar meyakini Tauhid Uluhiyah. Hal ini disebutkan dalam firmanNya Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut, lalu diantara umat-umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah dipastikan sesat. Oleh karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (para rasul)’ [An-Nahl ; 36]

Setiap rasul menyeru manusia agar meyakini Tauhid Uluhiyah. Adapun Tauhid Rububiyah, karena merupakan fitrah, maka belumlah cukup kalau seseorang hanya meyakini tauhid ini saja.

Ketiga : Tauhid Asma was Sifat
Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-saifat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diriNya maupun yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ; serta meniadakan kekurangan-kekurangan dan aib-aib yang ditiadakan oleh Allah terhadap diriNya, dan apa yang ditiadakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tiga jenis tauhid inilah yang wajib diketahui oleh seorang muslim, lalu secara sungguh-sungguh ,mengamalkannya.


[Al-Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Al-Fauzan II/17-18. Di salin ulang dari Majalah Fatawa edisi 1/I/Ramadhan 4123H Hal. 4-5]